SHARE

Muterfilm.id – Film adalah suatu mahakarya manusia yang sangat besar. Bagaimana sebuah ide cerita dihidupkan ke dalam gambar. Bagaimana seorang Aktor berperan dan membuat Film menjadi nikmat untuk ditonton. Bagaimana sebuah visual effect membuat film menjadi enak dilihat. Bagaimana suara menopang Film menjadi sangat nyata. Ya, banyak unsur dalam film yang membuatnya begitu hidup dan begitu nikmat untuk ditonton. Dan yang terpenting dari itu adalah Peran Seorang Aktor.

Menjadi aktor jelas tidak mudah, perlu penjiwaan terhadap perannya. Sebagus apapun sebuah cerita dalam Film, bila aktor tersebut tak mampu membuatnya hidup, cerita tersebut menjadi biasa saja. Dan berikut adalah hal yang diperlukan bila ingin menjadi Aktor yang hebat.

Menjadi

Ada istilah seperti ini, “Akting itu adalah menjadi, bukan berpura-pura.” Ungkapan tersebut terdengar sangat sederhana, namun sulit untuk dijalankan. Misal, anda seorang yang sangat sopan, berpakaian rapi dan penyuka musik Oasis, lalu diharuskan berperan menjadi seorang Anak Punk, yang identik dengan gaya penuh kebebasan, dan penyuka musik Green Day, NOFX atau Rancid. Apakah mudah bagi anda berperan menjadi Anak Punk? Atau menjadi sebaliknya.

Artinya dalam seni peran, kita tidak berpura-pura menjadi tokoh dalam cerita, melainkan menjadi tokoh tersebut. Bila anda menonton 3 Srikandi, bagaimana Chelsea Islan menjadi seorang Lilis, gadis Jawa yang medok. Di mana untuk pertama kali melihat Lipgloss (kalau saya tidak salah) karena di daerahnya tidak ada. Dalam kehidupan nyatanya, Chelsea adalah seorang Model dan sangat Modis. Namun, dalam 3 Srikandi dia harus menjadi Gadis Jawa yang medok. Chelsea berbicara baknya seorang Gadis Jawa, berpakaian dan bertingkah seperti gadis desa yang baru pertama kali ke Kota Besar. Dan dalam film 3 Srikandi tersebut, Chelsea benar-benar menjadi Lilis, gadis jawa medok yang baru pertama kali pergi ke Kota.

Menumbuhkan Perasaan

Dalam sebuah film, jelas banyak tokoh. Selain tokoh utama, ada tokoh pendukung, antagonis dan lainnya. Hubungan antar tokoh itu harus bisa ditumbuhkan.Misal, anda seorang pemuda yang belum menikah dan mempunyai anak. Lalu harus berperan menjadi seorang Ayah yang harus menjaga anak kesayangannya. Apa anda bisa membangun hubungan dengan orang lain yang menjadi anak anda?

Dalam Film, kita bisa saja mendapatkan lawan main yang belum kita kenal, namun kita diharuskan menjadi sepasang suami-istri. Hubungan suami-istri tersebut harus kita bangun, kita menumbuhkan perasaan kita dalam hubungan tersebut.

Dan Anda pasti tersentuh menonton Film Tampan Taylor, bagaimana Vino G. Bastian berperan menjadi seorang Ayah. Bagaimana ikatan yang kuat antar Vino dan Anaknya dalam film tersebut. Bila anda sudah menonton Rectoverso : Malaikat Juga Tahu, saya yakin anda tersentuh. Bagaimana seorang Lukman Sardi memeluk dengan erat Ibunya, yang diperankan oleh Dewi Irawan. Saat itu, anda bisa melihat bagaimana kasih sayang yang tulus seorang Ibu terhadap Anaknya, dan tanpa anda sadari air mata anda bercururan. Bagaimana ikatan tersebut bisa ada? Itu karena Dewi Irawan dan Lukman Sardi benar-benar menjadi Ibu dan Anak, mereka berdua menjiwai dan menumbuhkan perasaan tersebut ke dalam perannya. Membuat kita yang menonton ikut hanyut dalam perasaan Ibu dan Anak tersebut.

Mengamati

Kerja keras bisa mengalahkan bakat, jika bakat tak pernah bekerja keras. Jelas, menjadi seorang Aktor Hebat tak mudah, penuh perjuangan, selalu belajar dan bekerja keras. Bahkan, Nicholas Saputra harus berulang-ulang berjalan menjadi Soe Hok Gie. Bukan hanya cara berjalan, bagaimana Gie tersenyum, menatap lawan bicaranya, bahkan berpikir, seorang Nicholas Saputra harus paham itu semua. Namun Nicholas tak serta merta langsung bisa, perlu latihan berulang-ulang, membaca script berkali-kali, bahkan membaca pengetahuan sesuai peran. Misal, anda berperan menjadi seorang Tentara, anda mencari pengetahuan tentang Tentara, selain itu anda memperhatikan bagaimana Tentara bekerja. Anda harus melihat langsung kehidupan seorang Tentara, bagaimana Tentara berjalan, memegang senjata, dan berkomunikasi. Perlunya hal ini adalah untuk pengetahuan anda, karena anda tak pernah menjadi Tentara, jadi harus ada gambaran secara langsung.

Menjadi seperti Vino G. Bastian, Nicholas Saputra, Lukman Sardi, dan Dewi Irawan tidaklah mudah. Perlu kerja keras, keyakinan, dan perasaan yang kuat pada suatu peran. Seperti apa yang dikatakan oleh Almarhum Didi Petet, “Seni tidak bisa diartikan dalam kata-kata, tapi bisa dirasakan.”

Facebook Comments